3 Cara Memastikan Strategi Bundling Dapat Menarik Minat Konsumen

Bundling Strategy

Tentu bagi seorang pemasar, strategi bundling sudah tak asing lagi. Pasalnya, cara ini tergolong ampuh untuk menarik minat konsumen membeli produk kita. Sebab perbedaan harga yang relatif murah dengan menyatukan dua produk dalam satu paket menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Strategi bundling sendiri ada dua jenis, yakni cross-selling dan co-branding. Cross-selling adalah ketika produk yang di-bundling masih dari satu merek yang sama, sedangkan co-branding yaitu ketika dua produk yang di-bundling berlainan merek. Untuk contoh co-branding seperti diskon pembelian produk dari merek tertentu apabila konsumen menggunakan kartu kredit dari bank tertentu.

Tapi, pertanyaannya adalah bagaimana caranya kita bisa memastikan apakah strategi bundling yang dijalankan benar-benar akan berhasil atau tidak. Untuk mencari tahu hal itu, setidaknya ada 3 cara yang bisa digunakan untuk memastikan tingkat keberhasilan strategi bundling yang akan Anda jalani.

1. Lihat Besarnya Konsumen

Bundling baru akan berhasil bila sebuah merek memiliki pelanggan yang punya persepsi tinggi terhadap ukuran harga. Artinya, untuk satu merek semestinya ada kelompok konsumen yang rela membayar tinggi untuk sebuah produk, pun ada kelompok konsumen yang senang membayar murah untuk produk tertentu di merek lain.

Misal, merek A memiliki konsumen yang mau membayar tinggi dan rendah untuk sebuah membeli produk, begitu juga dengan merek B. Lihatlah berapa persentase konsumen dari kedua merek tersebut yang mau membayar tinggi dan murah untuk membeli sebuah produk.

Anggaplah kedua merek tersebut memiliki jumlah konsumen yang hampir sama besarnya, itu berarti strategi bundling akan dapat berjalan baik. Sebab bila keduanya dijual terpisah pada tingkatan harga yang cukup tinggi, maka masing-masing merek hanya akan dibeli tak lebih dari 25% konsumen bila digabungkan. Namun, bila dijual secara bundling, maka dapat menggaet 75% konsumen kedua merek.

Bundling Strategy
Sumber Gambar: creativesalesku.blogspot.co.id

2. Pastikan Konsumen Menghemat Lebih Banyak Uang

Konsumen tentu akan lebih memilih membeli produk bundling ketimbang membeli secara terpisah bila memang bisa menghemat lebih banyak uang. Pasalnya, akan percuma bila konsumen tak dapat menyimpan lebih banyak uang. Jadi, pastikan bahwa harga yang ditawarkan dalam strategi bundling jauh lebih murah dibanding saat dibeli secara terpisah.

Cara menghitungnya adalah dengan menjumlah harga tinggi untuk merek A atau B ditambah harga rendah untuk merek A dan B.

Bundling Strategy
Sumber Gambar: ahliduit.com

3. Produk Memiliki Variabel Kecil

Supaya strategi bundling dapat berhasil, maka pilihlah produk yang memiliki komponen biaya besar tetapi variabel yang kecil. Biaya variabel kecil ini terjadi karena memang sifat dari produk tersebut atau karena pencapaian skala ekonomi.

Operator seluler menjadi salah satu pihak yang memiliki layanan dengan komponen biaya besar tapi variabel kecil. Produknya pun memiliki keragaman yang sangat tinggi dalam persepsi pelanggan mengenai harga. Artinya, ada yang mau membayar dengan harga tinggi, tetapi ada yang hanya mau membayar pada kisaran harga yang rendah.

Memang, saat ini hampir semua industri sudah mulai beraliansi atau melakukan co-branding dalam berbagai bentuk. Bundling sendiri merupakan strategi pemasaran yang harus dipertimbangkan. Pasalnya, saat ini setiap merek sudah harus dihadapi oleh persaingan yang amat ketat. Jadi, tidak ada salahnya berkolaborasi untuk bisa memenangkan persaingan. Sebab itu, kini masing-masing merek memerlukan kerja sama dengan merek lain untuk memberikan customer value yang semakin tinggi.

You may also like

0 comments